Kamis, 08 September 2016

PAPER KAKAO

PEMBERIAN PUPUK FOSFOR TERHADAP PEMBIBITAN TANAMAN
KAKAO (Theobroma cacao L.)

 


PAPER

OLEH:

MUHAMMAD ILYASA NAZRI
 120301052
AGROEKOTEKNOLOGI/BPP


USU_FP







LABORATORIUM BUDIDAYA TANAMAN PENYEGAR
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2013
PEMBERIAN PUPUK FOSFOR TERHADAP PEMBIBITAN TANAMAN
KAKAO (Theobroma cacao L.)


 


PAPER

OLEH:

MUHAMMAD ILYASA NAZRI
 120301052
AGROEKOTEKNOLOGI/BPP




Paper Sebagai Salah Satu Kriteria Penilaian di Laboratorium Budidaya Tanaman Penyegar Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan.


         








LABORATORIUM BUDIDAYA TANAMAN PENYEGAR
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2013





PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu tanaman perkebunan yang dikembangkan untuk peningkatan sumber devisa negara dari sektor nonmigas. Indonesia merupakan daerah tropis yang mempunyai potensi baik untuk pengembangan kakao. Sejauh ini, pengendalian proses pengolahan biji kakao juga masih belum optimal. Salah satu penyebabnya adalah minimalnya pengetahuan tentang teknik perbanyakan kakao dengan cara vegetatif (grafting)            (Harjadi, 1993).
Pada tahun 2008 diidentifikasi bahwa sekitar 70.000 ha kebun kakao di sentra produksi kakao, kondisi tanamannya sudah tua/rusak, tidak produktif dan terserangberat hama dan penyakit sehingga perlu dilakukan peremajaan kebunsecara bertahap. Pada tahun 2009 melalui Gerakan Nasional Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao telah dilakukan peremajaan kebun seluas 20.000 ha di 9 Provinsi pelaksana Gerakan. Sebagai kompensasi bagi petani peserta, maka diberikan bantuan benih tanaman sela (semusim) untuk ditanam di areal kakao yang diremajakan. Pada tahun 2010 kegiatan peremajaan kebun seluas15.150 ha dilaksanakan di 12 provinsi pada 50 kabupaten, pada tahun 2011 dilaksanakan di 24 provinsi pada 92 kabupaten seluas 49.500 hadan pada tahun 2012 di 5 provinsi dan 19 kabupaten seluas 4.900 ha (Prastowo, dkk., 2005).
Indonesia merupakan produsen cokelat terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana1. Sumbangan devisa dari eksport kakao tahun 2002 adalah sebesar US$ 701 Juta, terbesar ketiga dari sub sektor perkebunan setelah karet dan kelapa sawit. Perkebunan kakao telah menyerap tenaga kerja sebanyak  ± 900 ribu kepala keluarga petani yang kebanyakan berada di kawasan Timur Indonesia (KTI). Provinsi Sulawesi Selatan sebagai daerah penghasil cokelat terbesar di Indonesia, menyumbang sebanyak 201.851,29 ton, atau senilai                  US$ 283.830. 683,413 (Harjadi, 1993).
Beberapa literatur mengungkapkan bahwa tanaman kakao berasal dari hutan-hutan tropis di Amerika Tengah dan di Amerika Selatan bagian utara. Penduduk yang pertama kali mengusahakannya sebagai bahan makanan dan minuman adalah suku Indian Maya dan suku Astek (Aztec). Mereka memanfaatkan kakao sebelum orang-orang kulit putih di bawah pimpinan Christopher Colombus menemukan Amerika. Suku Indian Maya adalah suku yang dulunya hidup di wilayah yang kini disebut sebagai Guatemala, Yucatan, dan Honduras (Amerika Tengah). Ketika bangsa Spanyol datang pada tahun 1591, suku Astek-lah yang mereka kenal sebagai penanam dan yang mengusahakan tanaman kakao (Prastowo, dkk., 2005).
Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui Pemberian Pupuk Fosfor Terhadap Pembibitan Tanaman kakao (Theobroma cacao L.)
Kegunaan Penulisan
Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikum di                        Laboratorium Budidaya Tanaman Penyegar Program Studi Agroekoteknologi                    Fakultas Pertanian Universitas Sumatera utara, Medan dan sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.


TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut PPKKI (2006) tanaman kakao diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom : Plantae ; Divisi : Spermatophyta ; Sub Divisi : Angiospermae ; Kelas : Dicotyledoneae ; Sub Kelas : Dialypetalae ; Ordo : Malvales ; Famili : Sterculiaceae ; Genus : Theobroma ; Spesies : Theobroma cacao L.
Akar tanaman kakao mempunyai akar tunggang (Radik primaria). Kakao adalah tanaman dengan surface root feeder, artinya sebagain besar akar lateralnya (mendatar) berkembang dekat permukaan tanah, yaitu pada kedalaman tanah (jeluk) 0-30 cm. 56% akar lateral tumbuh pada jeluk 0-10 cm, 26% pada jeluk 11-20 cm, 14% pada jeluk 21-30 cm, dan hanya 4% tumbuh pada jeluk di atas 30 cm dari permukaan tanah. Jangkauan jelajah akar lateral dinyatakan jauh di luar proyeksi tajuk. Ujungnya membentuk cabang-cabang kecil yang susunannya ruwet (intricate) (Gunawan, 1991).
Ditinjau dari segi pertumbuhannya, cabang-cabang pada tanaman kakao tumbuh kearah atas dan samping. Cabang yang tumbuh kearah atas disebut cabang orthotrop dan cabang yang tumbuh kearah samping disebut dengan Plagiotrop. Dari batang dan kedua jenis cabang tersebut sering ditumbuhi tunas-tunas air (Chupon) yang banyak menyerap energi, sehingga bila dibiarkan tumbuh akan mengurangi pembungaan dan pembuahan (Siregar, 2006).
Daun kakao bersifat dimorfisme, yakni tumbuh pada dua tunas (ortotrop dan plagiotrop). Daun yang tumbuh pada tunas ortotrop, tangkai daunnys berukuran 7,5 – 1,0 cm, sedangkan yang tumbuh pada tunas plagiotrop berukuran sekitar 2,5 cm. tangkai daun kakao berbentuk silinder dan bersisik halus. Sudut daun yang dibentuk adalah 30 – 80 terhadap batang/ cabang tempat tumbuhnya, tergantung pada tipenya. Salah satu sifat khusus daun kakao yaitu adanya dua persendian (articulation) yang terletak di pangkal dan ujung tangkai daun. Dengan persendian ini dilaporkan daun mampu membuat gerakan untuk menyesuaikan dengan arah datangnya sinar matahari (Wahyudi, dkk., 2009).
Bunga kakao tergolong bunga sempurna, terdiri atas daun kelopak (calyx) sebanyak 5 helai dan benang sari (Androecium) berjumlah 10 helai. Diameter bunga 1,5 centimeter. Bunga disangga oleh tangkai bunga yang panjangnya 2 – 4 centimeter. Pembungaan kakao bersifat cauliflora dan ramiflora, artinya bunga-bunga dan buah tumbuh melekat pada batang atau cabang, dimana bunganya terdapat hanya sampai cabang sekunder. Tanaman kakao dalam keadaan normal dapat menghasilkan bunga sebanyak 6000 – 10.000 pertahun tetapi hanya sekitar lima persen yang dapat menjadi buah (Gunawan, 1991).
            Buah kakao berupa buah buni yang daging bijinya sangat lunak. Kulit buah mempunyai sepuluh alur dan tebalnya 1 – 2 centimeter. Bentuk, ukuran dan warna buah kakao bermacam-macam serta panjangnya sekitar 10 – 30 centimeter, umumnya ada tiga macam warna buah kakau, yaitu hijau muda sampai hijau tua, waktu muda dan menjadi kuning setelah masak, warna merah serta campuran antara merah dan hijau. Buah ini akan masak 5 – 6 bulan setelah terjadinya penyerbukan. Buah muda yang ukurannya kurang dari 10 centimeter disebut cherelle (pentil). Buah ini sering sekali mengalami pengeringan (cherellewilt) sebagai gejala spesifik dari tanaman kakao. Gejala demikian disebut physiological effect thinning, yakni adanya proses fisiologis yang menyebabkan terhanbatnya penyaluran hara yang menunjang pertumbuhan buah muda. Gejala tersebut dapat juga dikarenakan adanya kompetisi energi antara vegetatif dan generatif atau karena adanya pengurangan hormon yang dibutuhkan untuk pertumbuhahn buah muda (Harjadi, 1993).
Biji kakao tidak mempunyai masa dormasi sehingga penyimpanan biji untuk benih dengan waktu yang agak lama tidak memungkinkan. Biji ini diselimuti oleh lapisan yang lunak dan manis rasanya, jika telah masak lapisan tersebut pulp atau micilage. Pulp ini dapat menghambat perkecambahan dan karenanya biji yang akan digunakan untuk menghindari dari kerusakan biji dimana jika pulp ini tidak dibuang maka didalam penyimpanan akan terjadi proses fermentasi sehingga dapat merukkan biji (Siregar, 2006).
Syarat Tumbuh
Iklim
Kakao tumbuh baik pada lahan datar atau kemiringan tanah kurang dari 15%. Suhu udara harian idealnya sekitar 28ÂșC, sehingga semakin tinggi tempat semakin rendah tingkat kesesuaiannya. Untuk terjaminnya keseimbangan metabolisme maka kelembaban yang dikehendaki tanaman kakao adalah 80% sesuai dengan iklim tropis (Gunawan, 1991).
            Lingkungan yang alami bagi tanaman kakao adalah hutan tropis, dengan demikian curah hujan, suhu, kelembaban udara, intensitas cahaya dan angin merupakan faktor pembatas penyebaran tanaman kakao (Siregar, 2006).
            Tanaman kakao dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 0 – 600 meter diatas permukaan laut, dengan penyebaran meliputi 20˚ LU dan 20˚ LS. Daerah yang ideal untuk pertumbuhannya berkisar antara 10˚ LU dan 10˚ LS. Tanaman kakao dalam pertumbuhan dan perkembangannya membutuhkan persediaan air yang cukup. Air ini diperoleh dari dalam tanah yang berasal dari air hujan atau air siraman (Gunawan, 1991).
            Curah hujan yang optimal untuk pertumbuhan tanaman kakao berkisar antara 1.500 – 2.000 mm setiap tahun, dengan penyebaran yang merata sepanjang tahun. Curah hujan 1.354 mm/tahun dianggap cukup jika hujan merata sepanjang tahun dengan musim kering tidak lebih dari 3 bulan (Harjadi 1993).
            Suhu yang ideal untuk pertumbuhan tanaman kakao adalah sekitar 25 - 27˚ C dengan fluktuasi suhu yang tidak terlalu besar. Rata-rata suhu minimum adalah 13 - 21˚ C dan rata-rata suhu maksimum adalah 30 - 32˚ C. Berdasarkan kesesuaian terhadap suhu tersebut maka tanaman kakao secara komersial sangat baik dikembangkan di daerah tropis (Sutedjo dan Kartasapoetra, 1999).     
Tanah
Tanaman kakao membutuhkan tanah berkadar bahan organik tinggi, yaitu di atas 3%. Kadar bahan organik yang tinggi akan memperbaiki struktur tanah, biologi tanah, kemampuan penyerapan (absorpsi) hara, dan daya simpan lengas tanah. Tingginya kemampuan absorpsi menandakan bahwa daya pegang tanah terhadap unsur-unsur hara cukup tinggi dan selanjutnya melepaskannya untuk diserap akar tanaman (Gunawan, 1991).
Tanah merupakan komponen hidup dari tanaman yang sangat penting. Dalam kehidupan tanaman fungsi tanah yang utama adalah memberikan unsur hara, baik sebagai medium pertukaran maupun sebagai tempat memberikan air, juga sebagai tempat berpegang dan bertopang untuk tumbuh tegak bagi tanaman (Harjadi, 1993).
Tanaman kakao untuk tumbuhnya memerlukan kondisi tanah yang mempunyai kandungan bahan organ yang cukup, lapisan olah yang dalam untuk membantu pertumbuhan akar, sifat fisik yang baik seperti struktur tanah yang gembur juga sistem drainase yang baik. PH tanah yang ideal berkisar antara 6 – 7 (Soepardi, 1983).
Tanah mempunyai hubungan erat dengan sistem perakaran tanaman kakao, karena perakaran tanaman kakao sangat dangkal dan hampir 80% dari akar tanaman kakao berada disekitar 15 cm dari permukaan tanah, sehingga untuk mendapatkan pertumbuhan yang baik tanaman kakao menghendaki struktur tanah yang gembur agar perkembangan akar tidak terhambat. Perkembangan akar yang baik menentukan jumlah dan distribusi akar yang kemudian berfungsi sebagai organ penyerapan hara dari tanah. Tanaman kakao menghendaki permukaan air tanah yang dalam. Permukaan air tanah yang dangkal menyebabkan dangkalnya perakaran sehingga tumbuhnya tanaman kurang kuat (Harjadi, 1993)










PEMBERIAN PUPUK FOSFOR TERHADAP PEMBIBITAN TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao L.)
Pupuk Fosfor
            Mobilitas unsur hara P dalam tanah sangat rendah karena reaksi dengan komponen tanah maupun dengan ion - ion logam dalam tanah seperti Ca, Al, Fe, akan membentuk senyawa yang kurang larut dan dengan tingkat kelarutan yang berbeda-beda. Reaksi tanah (pH) memegang peranan sangat penting dalam mobilitas unsur ini. Unsur P berperan dalam proses pemecahan karbohidrat untuk energi, selain itu berperan dalam pembelahan sel melalui peranan nukleoprotein yang ada dalam inti sel. Unsur P juga menentukan pertumbuhan akar, mempercepat kematangan dan produksi buah dan biji (Damanik, dkk., 2011).
            Gejala defisiensi P mengakibatkan pertumbuhan terhambat karena pembelahan sel terganggu dan daun menjadi ungu atau coklat mulai dari ujung daun (Kartasapoetra, 2000).
            Fosfor (P) merupakan unsur yang sangat penting bagi kehidupan, dapat menimbulkan eutrofikasi di danau, sungai, dan perairan lain. Unsur P juga merupakan zat yang sangat penting tetapi selalu dalam keadaan kurang dalam tanah (Simanungkalit, dkk., 2006).
            Unsur P sangat penting sebagai sumber energi (ATP). Oleh karena itu, kekurangan P dapat menghambat pertumbuhan maupun reaksi-reaksi metabolisme tanaman. Unsur P pada tanaman berfungsi dalam pembentukkan bunga, buah, dan biji serta mempercepat pematangan buah. Pemberian unsur P dalam jumlah yang memadai dapat meningkatkan mutu benih yang meliputi potensi perkecambahan dan vigor bibit (Pidrayanti, 2008).

Jenis - Jenis Pupuk Fosfor
            Usaha efisiensi pemupukan dalam praktek dapat ditempuh dengan beberapa cara, diantaranya adalah perbaikan sifat pupuk. Upaya ini meliputi teknis dan proses pembuatan pupuk dengan bentuk, ukuran, kadar hara, atau spesifikasi tertentu yang dapat menghasilkan reaktivitas ataupun efektifitas sesuai dengan yang dikehendaki. Dengan kata lain, teknologi pengembangan produksi pupuk hendaknya mengacu pada kecukupan hara tanaman dan spesifikasi yang dibutuhkan konsumen saat ini (Marsono, 2001).
            Fosfor diambil oleh akar dalam bentuk H2PO4- dan HPO4= sebagian besar fosfor didalam tanaman adalah sebagai zat pembangun dan terikat dalam senyawa-senyawa organik dan hanya sebagian kecil terdapat dalam bentuk anorganik sebagai ion-ion phosphat. Beberapa bagian tanaman sangat banyak mengandung zat ini, yaitu bagian-bagain yang bersangkutan dengan pembiakan generatif, seperti daun-daun bunga, tangkai sari, kepala sari, butir tepung sari, daun buah dan bakal biji. Jadi untuk pembentukan bunga dan buah sangat banyak diperlukan unsur fosfor (IPB, 2009).
            Fosfat alam merupakan sumber P yang dapat digunakan sebagai bahan baku industri seperti pupuk P yang mudah larut (antara lain TSP, SP-18, SSP, DAP, MOP). Industri pupuk menggunakan sekitar 90% fosfat alam yang diproduksi di dunia. Fosfat alam dari deposit batuan sedimen sebagian besar telah mempunyai reaktivitas yang cukup memadai untuk tanaman pangan dan perkebunan (Marsono, 2001).

Kelebihan dan Kekurangan Pupuk Posfor
            Keuntungan menggunakan fosfat alam secara langsung yaitu: (1) dapat menghemat ebergi dan mengurangi pencemaran yang diakibatkan industri pupuk (2) Harga per satuan hara lebih murah (3) efektifitasnya sama atau kadang lebih tinggi jika dibandingkan dengan SP-36 (4) meningkatkan efisiensi pupuk P        10-20% yang bersifat slow release sehingga residunya dapat dimanfaatkan untuk musim tanam selanjutnya (5) mengandung hara Ca, Mg, dan hara mikro serta sesuai untuk tanah masam (Novizan, 2002).
            Namun penggunaan pupuk fosfat juga mempunyai beberapa kendala antara lain (1) kadar P2O5 dalam alam sangat bervariasi sehingga menyulitkan dalam pengadaan, perdagangan dan penggunaanya (2) fosfat alam mempunyai kadar P2O5 total dan kelarutan yang bervariasi sehingga respons terhadap pemupukan berbeda-beda (3) ukuran butirnya halus sehingga sulit  dalam pengaplikasiannya (4) respon tanaman sangat dipengaruhi oleh sifat tanah, tanaman, lingkungan dan cara pemupukan (5) beberapa fosfat alam mengandung logam berat cukup tinggi sehingga mencemari lingkungan (Novizan, 2002).
Kandungan Pupuk Fosfor
            Di dalam batuan fosfat alam terkandung berbagai unsur seperti Ca, Mg, Al, Fe, Si, Na, Mn, Cu, Zn, Mo, B, Cd, Hg, Cr, Pb, As, U, V, F, Cl. Unsur utama di dalam fosfat alam antara  lain P, Al, Fe, dan Ca. Secara kimia, fosfat alam dapat dikatagorikan menjadi fosfat alam dengan dominasi Ca-P atau Al-P dan   Fe-P sedangkan unsur lain merupakan unsur ikutan yang bermanfaat dan sebagian lain kurang bermanfaat bagi tanaman. Unsur ikutan yang perlu diwaspadai adalah kandungan logam berat yang cukup tinggi dalam fosfat alam, seperti Cd, Cr, Hg, Pb, dan U (Hardjowigeno, 2003).
            Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa pupuk fosfat mengandung logam Cd 7 ppm. Apabila pupuk tersebut digunakan secara terus menerus dengan dosis dan intensitas yang tinggi dapat meningkatkan Cd yang tersedia dalam tanah sehingga meningkatkan serapan Cd oleh tanaman (Hakim, dkk., 1986).
            Efisiensi pemupukan dapat ditempuh dengan melakukan dua pendekatan, yaitu (i) peningkatan kesuburan tanah dan (ii) modifikasi produk pupuk yang lebih efisien. Pedekatan pertama ditempuh melalui usaha peningkatatan daya dukung tanah dengan input hayati, baik berupa bahan organik maupun mikroorganisme. Dengan meningkatnya kesuburan tanah, efisiensi penggunaan pupuk oleh tanaman dapat diperoleh. Pendekatan kedua lebih menekankan kepada dosis aplikasi dapat dikurangi karena efektifitas produk pupuknya ditingkatkan dan atau ongkos produksinya dapat dikurangi (Indrayana, 2008).
Pemberian  Pupuk Fosfor Pada Tanaman Kakao (Theobroma cacao L.)
            Pemberian pupuk Fosfor pada tanaman kakao bertujuan untuk mengurangi Usaha efisiensi pemupukan dalam praktek dapat ditempuh dengan beberapa cara, diantaranya adalah perbaikan sifat pupuk. Upaya ini meliputi teknis dan proses pembuatan pupuk dengan bentuk, ukuran, kadar hara, atau spesifikasi tertentu yang dapat menghasilkan reaktivitas ataupun efektifitas sesuai dengan yang dikehendaki. Dengan kata lain, teknologi pengembangan produksi pupuk hendaknya mengacu pada kecukupan hara tanaman dan spesifikasi yang dibutuhkan konsumen saat ini (Marsono, 2001).
            Fosfor diambil oleh akar tanaman kakao dalam bentuk H2PO4- dan HPO4= sebagian besar fosfor didalam tanaman adalah sebagai zat pembangun dan terikat dalam senyawa-senyawa organik dan hanya sebagian kecil terdapat dalam bentuk anorganik sebagai ion-ion phosphat. Beberapa bagian tanaman sangat banyak mengandung zat ini, yaitu bagian-bagain yang bersangkutan dengan pembiakan generatif, seperti daun-daun bunga, tangkai sari, kepala sari, butir tepung sari, daun buah dan bakal biji. Jadi untuk pembentukan bunga dan buah sangat banyak diperlukan unsur fosfor (IPB, 2009).
            Pemupukan tanaman kakao yang digunakan adalah pupuk Fosfat alam merupakan sumber P yang dapat digunakan sebagai bahan baku industri seperti pupuk P yang mudah larut (antara lain TSP, SP-18, SSP, DAP, MOP). Industri pupuk menggunakan sekitar 90% fosfat alam yang diproduksi di dunia. Fosfat alam dari deposit batuan sedimen sebagian besar telah mempunyai reaktivitas yang cukup memadai untuk tanaman pangan dan perkebunan (Marsono, 2001).

KESIMPULAN
1.      Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu tanaman perkebunan yang dikembangkan untuk peningkatan sumber devisa negara dari sektor nonmigas.
2.      Gejala defisiensi P mengakibatkan pertumbuhan terhambat karena pembelahan sel terganggu dan daun menjadi ungu atau coklat mulai dari ujung daun.
3.      Keuntungan menggunakan fosfat alam secara langsung yaitu : dapat mengehemat energi dan mengurangi pencemaran, Harga per satuan hara lebih murah, efektifitasnya sama atau kadang lebih tinggi                         meningkatkan efisiensi pupuk P 10 – 20 % yang bersifat slow release, mengandung hara Ca, Mg, dan hara mikro serta sesuai untuk tanah masam.
4.      Kelemahan penggunaan pupuk fosfat antara lain kadar P2O5 dalam alam sangat bervariasi sehingga menyulitkan dalam pengadaan, perdagangan, dan penggunaannya fosfat alam mempunyai kadar P2O5 total dan kelarutan yang bervariasi sehingga respons terhadap pemupukan berbeda-beda respons tanaman sangat dipengaruhi oleh sifat tanah, tanaman, lingkungan, dan cara pemupukan beberapa fosfat alam mengandung logam berat cukup tinggi sehingga mencemari lingkungan.
5.      Efisiensi pemupukan dapat ditempuh dengan melakukan dua pendekatan, yaitu  peningkatan kesuburan tanah dan  modifikasi produk pupuk yang lebih efisien.
6.      Di dalam batuan fosfat alam terkandung berbagai unsur seperti Ca, Mg, Al, Fe, Si, Na, Mn, Cu, Zn, Mo, B, Cd, Hg, Cr, Pb, As, U, V, F, Cl.

DAFTAR PUSTAKA
Damanik, M. M. D., Fauzi., H. Hanum., B. E. Hasibuan., dan Sarifuddin. 2011. Kesuburan Tanah dan Pemupukan. USU Press, Medan.

Gunawan, A. 1991. Pengaruh Berbagai Jenis Bahan Organik Pada Media Tanam Podsolik Merah Kuning Terhadap Pertumbuhan Bibit Kakao       (Theobroma cacao L.). Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Hakim, N. M., Y. Nyakpa., A. M. Lubis., S. G. Nugroho., A. Diha., G. B. Hong., dan H. H. Bailey., 1986. Dasar-Dasar Ilamu Tanah. Universitas Lampung      Press,   Lampung.

Hardjowigeno, R. 2003. Pemupukan Tanaman. Penebar Swadaya, Jakarta.

Harjadi, M. M. S. S. 1993. Pengantar Agronomi. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Indrayana, R. 2008. Efek Antioksidan Ekstrak Etanol 70% Daun Cengkeh             (Syzygium aromaticum [L.] Walp.) Pada Serum Darah Tikus Putih Jantan            Galur Wistar Yang Diinduksi Karbon Tetraklorida (Ccl4). Karya Tulis      Ilmiah. Program. Sarjana Fakultas Kedokteran, Semarang.

IPB. 2009. Pemupukan Tanaman Hortikultura. IPB Press, Bogor.

Kartasapoetra, A. G. 2000. Pupuk dan Cara Pemupukannya. Rhineka Cipta,           Jakarta.

Marsono, K. 2001. Pemupukan Tingkatkan Produksi Pertanian. Agromedia            Pustaka, Jakarta.

Novizan. 2002. Petunjuk Pemupukkan Yang Efektif. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Prastowo, A. A., N. Qomariyah, S. Rahayu, dan B. Kusmanadhi. 2005. Kajian agronomis dan anatomis hasil sambung dini tanaman kakao (Theobroma cacao L.). Pelita Perkebunan 21(1): 12−30.

Siregar, T. H.S. 2006, Budidaya, Pengolahan dan Pemasaran Coklat, Penebar Swadaya Jakarta.

Soepardi, 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sutedjo, M. M. dan A. G. Kartasapoetra. 1999. Pupuk dan Cara Pemupukan. Graha Media Pratama. Jakarta.

Wahyudi, T., T. R. Panggabean dan Pujiyanto. 2009. Panduan Lengkap Kakao. Penebar Swadaya, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar